WRITE MY THING. Jakarta

// Pilihan//

Baru kemaren nulis artikel tentang “5 Ways To Fall In Love (Again)”. Sebenarnya artikel ini nggak akan muncul kalau artikel saya yang sebelumnya nggak di drop. Jadi saya ucapkan sebesar-besarnya pada tuan “nasib”, karena sekali lagi bisa merasakan yang namanya proses kreatif dari nol.

Ternyata yang namanya nulis itu nggak sekedar “mengedukasi” yang baca dengan serangkaian informasi karena sendirinya juga jadi ikutan belajar. Kali ini belajar tentang…… Cinta. Bukannya mau sok-sok paling ngerti tentang cinta. Perjalanan cinta saya sendiri masih suka mogok dikit kayak si vespa biru punya pacar saya.

Katanya… Cinta itu pilihan. Kita yang memilih untuk menamkan ide di otak kita untuk mulai mencintai seseorang. Kalau kita nggak pengen, ya nggak bakalan ada cerita cinta-cintaan sama si seseorang itu. Bahayanya, cinta bisa berhenti kapan saja. Kapan saja kita mau. Kapan saja kita memilih untuk berhenti. Agak egois ya?

So, mungkin buat yang pengen putus sama pacarnya, nggak perlu lah “ngeles” dengan kalimat “udah nggak ada feeling”. Situnya aja kali yang udah kepengen nggak punya feeling.

Buat yang susah move on, nggak perlu lah “ngeles” dengan kalimat masih stuck di mantan. Situnya aja kali yang milih untuk nggak jatuh cinta sama orang lain.

Buat yang lagi adem anyem sama pacarnya………. Nggak perlulah baca postinyan ini.

"Kartu Ucapan" buat ibu.

I don’t want flowers or cards or stuff…. Just a little bit of your time.

// Makin Tahu Makin Malu//

Malu rasanya kalo melihat kembali ke postingan saya waktu baru bikin Tumblr. Saya kebanyakan curhat - sekarang juga curhat. Sampai berpikir apa hobi saya itu sebenarnya bukan nulis tapi curhat yang berkamuflase dalam wujud “suka nulis” biar lebih keren.

Saya ingat waktu itu saya nulis sesuka hati. Kepikiran ini langsung tulis. Kepikiran itu langsung tulis. Tidak ada filter sama sekali. Masa bodo dengan yang baca, toh saya tidak minta. Orangnya yang mampir sendiri.

Sekarang beda. Saya jarang nulis…. Lebih tepatnya jarang curhat lagi. Sebenarnya nulis, cuman lebih banyak yang dihapus lagi dibanding yang diposting. Soalnya saya jadi aneh. Jadi banyak pertimbangan. Nggak santai lagi seperti dulu.

Gara-gara apa? Gara-gara saya mulai berpikir.

Kenapa saya mulai berpikir? Karena saya mulai punya pengalaman.

Apa masalahnya? Saya takut dihakimi.

Kok bisa, dulu nggak? Sekarang beda. Biasa, masalah pecitraan.

Pencitraan penting? Penting……… Sepertinya.

Merasa lebih baik? Sama sekali nggak. Ada yang hilang.

Apa? Kebebasan.

Untuk? Untuk curhat. Untuk jadi saya. Untuk…. Untuk bersenang-senang.

// Gondongan//

Sudah seminggu lebih saya goler-goleran dugong nggak produktif di rumah. Tidak… Saya bukan korban banjir. Saya korban gondongan. Awalnya si nyokap yang kena. Eh saya ketuleran. Pipi saya yang dasarnya sudah tembam jadi semakin mengembang. Kemudian leher saya juga. Sama sekali nggak cantik. Padahal katanya “beauty is pain”. Saya sudah pain tapi kok nggak beauty? Huh.

Tadinya mau sok-sok pakai cara tradisional, meracik ramuan blau dan cuka buat digosok di daerah yang bengkak. Tapi setelah saya tanya Mister Google katanya itu hanya akal-akalan orangtua jaman dulu supaya anaknya nggak keluyuran waktu gondongan karena mukanya kayak Smurf. Saya pun ke dokter. Bukan untuk berobat tapi buat minta surat. Sayangnya suratnya nggak boleh minta dan nggak boleh beli. Ujung-ujungnya jadi berobat juga. Alhasil saya dilarang keluar rumah selama 2 minggu oleh dokter. Katanya saya harus dikarantina karena virusnya menular. Argh!

Dulu waktu kecil pasti senang bukan main kalo Dokter bilang harus ‘istirahat’ di rumah. Telinga belia saya kala itu menafsirkan kata istirahat sebagai ‘libur dadakan’ dan ‘bebas PR’. Sekarang saya malah panik. Apa kabar kerjaan saya? Ada yang memang dapat saya kerjakan di rumah. Tapi ada juga yang tidak. Di samping itu saya agak nggak enak sama atasan. Ugh… Sekarang saya mulai terdengar seperti ibu saya. Seperti……………. Orang tua?

Saya sudah tuaaaaaaaaaaaaaa!

Akh.


*blackout
Drama berakhir.

No more cards.

Terima kasih buat waktunya! ❤️

Terima kasih buat waktunya! ❤️

Can I have you for breakfast? 😘

Can I have you for breakfast? 😘

This blog does not exist. Well, until you found it.