WRITE MY THING. Jakarta

"Kartu Ucapan" buat ibu.

I don’t want flowers or cards or stuff…. Just a little bit of your time.

// Makin Tahu Makin Malu//

Malu rasanya kalo melihat kembali ke postingan saya waktu baru bikin Tumblr. Saya kebanyakan curhat - sekarang juga curhat. Sampai berpikir apa hobi saya itu sebenarnya bukan nulis tapi curhat yang berkamuflase dalam wujud “suka nulis” biar lebih keren.

Saya ingat waktu itu saya nulis sesuka hati. Kepikiran ini langsung tulis. Kepikiran itu langsung tulis. Tidak ada filter sama sekali. Masa bodo dengan yang baca, toh saya tidak minta. Orangnya yang mampir sendiri.

Sekarang beda. Saya jarang nulis…. Lebih tepatnya jarang curhat lagi. Sebenarnya nulis, cuman lebih banyak yang dihapus lagi dibanding yang diposting. Soalnya saya jadi aneh. Jadi banyak pertimbangan. Nggak santai lagi seperti dulu.

Gara-gara apa? Gara-gara saya mulai berpikir.

Kenapa saya mulai berpikir? Karena saya mulai punya pengalaman.

Apa masalahnya? Saya takut dihakimi.

Kok bisa, dulu nggak? Sekarang beda. Biasa, masalah pecitraan.

Pencitraan penting? Penting……… Sepertinya.

Merasa lebih baik? Sama sekali nggak. Ada yang hilang.

Apa? Kebebasan.

Untuk? Untuk curhat. Untuk jadi saya. Untuk…. Untuk bersenang-senang.

// Gondongan//

Sudah seminggu lebih saya goler-goleran dugong nggak produktif di rumah. Tidak… Saya bukan korban banjir. Saya korban gondongan. Awalnya si nyokap yang kena. Eh saya ketuleran. Pipi saya yang dasarnya sudah tembam jadi semakin mengembang. Kemudian leher saya juga. Sama sekali nggak cantik. Padahal katanya “beauty is pain”. Saya sudah pain tapi kok nggak beauty? Huh.

Tadinya mau sok-sok pakai cara tradisional, meracik ramuan blau dan cuka buat digosok di daerah yang bengkak. Tapi setelah saya tanya Mister Google katanya itu hanya akal-akalan orangtua jaman dulu supaya anaknya nggak keluyuran waktu gondongan karena mukanya kayak Smurf. Saya pun ke dokter. Bukan untuk berobat tapi buat minta surat. Sayangnya suratnya nggak boleh minta dan nggak boleh beli. Ujung-ujungnya jadi berobat juga. Alhasil saya dilarang keluar rumah selama 2 minggu oleh dokter. Katanya saya harus dikarantina karena virusnya menular. Argh!

Dulu waktu kecil pasti senang bukan main kalo Dokter bilang harus ‘istirahat’ di rumah. Telinga belia saya kala itu menafsirkan kata istirahat sebagai ‘libur dadakan’ dan ‘bebas PR’. Sekarang saya malah panik. Apa kabar kerjaan saya? Ada yang memang dapat saya kerjakan di rumah. Tapi ada juga yang tidak. Di samping itu saya agak nggak enak sama atasan. Ugh… Sekarang saya mulai terdengar seperti ibu saya. Seperti……………. Orang tua?

Saya sudah tuaaaaaaaaaaaaaa!

Akh.


*blackout
Drama berakhir.

No more cards.

Terima kasih buat waktunya! ❤️

Terima kasih buat waktunya! ❤️

Can I have you for breakfast? 😘

Can I have you for breakfast? 😘

One of life most simple pleasures is spending time with those we love. Well, thank you for the lovely dinner! ❤️

One of life most simple pleasures is spending time with those we love. Well, thank you for the lovely dinner! ❤️

This blog does not exist. Well, until you found it.